Pages

    Monday, August 8, 2011

    After Social Media, What is Next?

    Wah lama banget ga nulis. Akhirnya dapat waktu yang tepat nih buat sharing. Hmm..saya ceritakan sedikit latar belakang kenapa saya tertarik membahas topik yang satu ini ya.

    Hampir setahun yang lalu saya ngobrol-ngobrol dengan beberapa kolega saya. Kami masih membahas tentang prospek bisnis dan apa yang bisa dilakukan dengan Social Media. In short, we were walking about Social Media Marketing dan bagaimana agensi-agensi periklanan lokal bisa berkontribusi terhadap kemajuan brand-brand di Indonesia, digital-wise. Lalu terlontar pertanyaan, “masa iya cuma dari Social Media doang? Itu pun terjadinya karena dipicu oleh Social Media frenzy by our (Indonesian) people. Kasarnya, the market is there and so does the business will be. Correct?” Sampai sekarang, menurut saya Social Media memberikan kontribusi dan pra-edukasi yang cukup baik terhadap masyarakat Indonesia, untuk akhirnya sekitar 45 jutaan orang sudah mulai mengenal internet.

    Begitu pertanyaan itu dilemparkan ke dalam forum, saya nyeletuk, “SEM&SEO CAN be the next big thing.” Apa sih SEM (Search Engine Marketing) dan SEO (Search Engine Optimization) itu? Dua-duanya sebetulnya ‘saudaraan’. Jadi, saya sedikit bantu jabarkan definisi SEO saja ya:


    Optimisasi mesin pencari (bahasa Inggris: Search Engine Optimization, biasa disingkat SEO) adalah serangkaian proses yang dilakukan secara sistematis yang bertujuan untuk meningkatkan volume dan kualitas trafik kunjungan melalui mesin pencari menuju situs web tertentu dengan memanfaatkan mekanisme kerja atau algoritma mesin pencari tersebut. Tujuan dari SEO adalah menempatkan sebuah situs web pada posisi teratas, atau setidaknya halaman pertama hasil pencarian berdasarkan kata kunci tertentu yang ditargetkan. Secara logis, situs web yang menempati posisi teratas pada hasil pencarian memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pengunjung.

    Source: Wikipedia

    In short, SEM itu bayar, sedangkan SEO bisa bayar (jasa freelance) atau dikerjakan sendiri. Pada umumnya para klien akan menggunakan jasa SEM, melalui agensi terlebih dahulu. Gunanya adalah untuk mempelajari workflow dari SEM, lalu diimplementasikan dan dibuat lebih detil di SEO. Dua-duanya memiliki tujuan yang sama, yaitu menjadi yang teratas di situs mesin pencari (untuk di Indonesia saat ini) Google. Why Google? Informasi yang saya dapatkan dari rekan-rekan di Google Singapore adalah bahwa di Indonesia, 95% masyarakatnya menggunakan Google untuk mencari informasi di internet.

    Intermezzo: Oiya, saya berani sump*h kalau ini blogging #takberbayar :D


    Nah, kenapa saya bilang SEM&SEO bisa besar? Tidak cuma konsumen yang makin piawai menggunakan fasilitas di internet, tetapi para brand manager juga sudah mulai giat mencari celah untuk mendapatkan Top-of-Mind, bahkan di dunia digital. Setelah mencoba, mempelajari, dan melihat hasil dari penggunaan social media dan digital ad placement, baik di situs-situs besar maupun situs-situs yang niche, di kegiatan pemasaran mereka, maka sudah waktunya untuk menarik garis mundur untuk mengetahui pintu informasi yang senantiasa dikunjungi oleh konsumen dalam mencari informasi: SEARCH ENGINE. Dan, sama seperti tempat beriklan digital lainnya, search engine itu measurable. Pageviews, visits, clicks, sales conversions, you name it!


    Fenomena ini pun sudah didukung dengan beberapa fakta, seperti rencana Google untuk membuka kantor di Indonesia dan (desas-desusnya) Indonesia akan menjadi pusat konsentrasi bisnis Google untuk di wilayah Asia Tenggara. As you can see that Google answered Indonesia’s demand and they look like they do not want to waste any time.


    Selain fakta tersebut, sekarang juga sudah mulai menjamurnya PPC Agency di Indonesia. Nah loh! Apa lagi tuh PPC? PPC merupakan singkatan Pay Per Click.


    Pay per click (Bayar per klik) berarti dibayar tiap klik adalah sebuah metode kerjasama periklanan di internet dimana webmaster atau pemilik situs akan dibayar atas setiap klik pengunjung situs pada link iklan yang terpasang di situs web atau blog miliknya.


    Billing system dari jasa SEM adalah PPC. Well..ga cuma Google sih. Facebook Ad juga menggunakan sistem PPC. Hanya saja, Facebook Ad is sooo easy to use and quite powerful to generate traffic into one’s website. Tapi kenapa kalau SEM butuh agensi, sedangkan Facebook Ad tidak terlalu perlu. It is because SEM&SEO membutuhkan specialists yang mengerti cara kerja dan mengerjakan Google AdWords dan Google AdSense (seperti yang saya bilang bahwa Google’s Search Engine-lah yang paling promising di Indonesia). Sedangkan, Facebook Ad cukup simple untuk digunakan, dengan resiko untuk measurement-nya tidak se-fleksibel Google.


    Semuanya bermuara ke satu tempat, yaitu: Customer Behaviour. Apa sih yang mereka ketik di mesin pencari? Seberapa sering konsumen mencari produk Anda? Apakah iklan-iklan di offline dan online cukup berhasil untuk membuat konsumen mencari tahu lebih banyak tentang produk Anda di dunia maya? Apa pertimbangan mereka dalam membeli produk Anda?


    “Find your customer needs and you are pretty much already on the top of the game.”


    Akhir kata, saran saya kepada para marketers: Be critical and persistent in finding you customers’ needs. Dan untuk para ahli SEM&SEO di luar sana: Unleash your potential!!!


    Thanks for reading, guys ;) Don’t forget to drop your comments, suggestions, opinions, even criticisms.


    Friday, February 25, 2011

    Yes, But SMS Won’t Die..Yet


    How many of you are living in the big cities? How many of you owned Blackberry, iPhone, or other smartphones? Do you enjoy BBM (BlackBerry Messenger), YM (Yahoo Messenger) Mobile, Whatsapp, or any other IM (Instant Messaging) applications? And tell me, do you remember one of the greatest invention called SMS (Short Messaging Service)? FYI, SMS was actually developed in the Franco-German GSM cooperation in 1984 by Friedhelm Hillebrand and Bernard Ghillebaert.

    To those who use IM feature on smartphones, do you guys still text?

    An interesting discussion that I had with my girlfriend is that do you think Mobile IM will eventually kill SMS? It is a very interesting topic since the amount of BlackBerry and smartphone – that enable IM – users keeps increasing day by day. Indeed, that the usage of SMS is declining, simply because it saves a lot of money. However, how big it will impact Indonesians way of communicating through mobile phones?

    Indonesia Cellular Communication Association Chairman, Sarwoto Atmosutarno, said that at least by the end of 2010, a half of Indonesia’s population will already own their own mobile phones. Predicted that BlackBerry users in Indonesia will reach 2 million users by the end of 2010, which means almost 0.01% of mobile phones users in Indonesia will – most probably – choose BBM over SMS, let alone the other smartphone users. The number will only go up.

    Before we go a little bit further, let’s do a comparation:

    SMS

    Mobile IM

    Cost

    High Price

    Requires a data plan from the operator

    Access to Users

    Exist on every handset and works between all handsets and networks

    You will need to download the app first, install, sign in, and so on.

    Coverage

    Works everywhere

    Need to be connected to an IP network (either the operator’s data network or through WiFi)

    Micro Payments

    Commonly used for doing small transactions

    N/A

    3rd Party Services

    Retrieve banking information, Movie schedules, etc

    Some contact centers offer customer service via desktop IM

    Filtering/Spamming

    Senders pay for the messages they send. They will think twice before spamming/blasting

    The cost is zero. That means senders can just spam to their contacts, although you still have the capacity to filter them.

    Others Uses

    Commonly used for votings/polls (political campaign, TV reality shows, etc)

    N/A

    Although smartphones is quite a frenzy in Indonesia right now, our infrastructure is not as stable and advanced as you think yet. Indonesia Ministry of Communication and Information is targetting Indonesia to be ‘Information Citizen’ by the year 2015, based on Indonesia’s number increase on Software Houses, Software Developers, e-Education, Piracy Rate, and e-Goverment.

    Thus, in my honest opinion, we will not yet be ready on 2015. Thus, when will Mobile IM replace SMS? It might be, in the next 10 to 15 years and that is if things go as planned.

    For me? When mobile, I use Mobile IM to work & communicate, but I use SMS for ‘telling stories’

    What about you? Do you see SMS and Mobile IM as the exact same thing?

    Thanks for reading.

    Monday, December 13, 2010

    Brand juga (bisa jadi) Manusia


    Mungkin setelah membaca judulnya, teman-teman jadi bertanya-tanya, "How come?"

    Topik ini saya angkat karena sangat menarik untuk dibahas. Sering saya dengar celotehan bahwa:
    • "Bukan Tweet kalau bukan orang beneran.";
    • "Twitter&Facebook sebaiknya tidak buat promosi brand. Bikin kotor timeline!";
    • "Social Media itu tidak bisa diukur dan tidak memiliki peran dalam peningkatan revenue."
    Kalau menurut saya pribadi, cara pandang tersebut - atau yang mirip - sangat debatable. Teman-teman pasti sering lihat promosi-promosi para brand lewat Twitter khan? Sudah banyak malahan. Nah, sebetulnya apa sih objektif mereka? Terus, upaya apa yang bisa dilakukan untuk memanusiakan sebuah brand?

    Kalau ditanya apa objektif sebuah brand untuk 'nyemplung' ke Social Media, bisa macam-macam. Untuk saya, ada dua macam objektif, yang berkorelasi positif dengan sifatnya.

    Hard-Selling cenderung bersifat jangka pendek
    'Yang penting jualan'. Pesan-pesan yang disampaikan oleh brand ini biasanya bersifat promosi semata. Mengganggu? Tentu! Tapi..hanya untuk konsumen yang merasa tidak membutuhkan produk dari brand tersebut. Tidak sedikit brand yang mempraktekkan strategi ini, karena bisa juga berhasil. Bahkan bisa juga digunakan untuk meningkatkan brand awareness.

    Salah satu brand yang menurut saya sempat meng-abuse Social Media di Indonesia adalah @kapanlagi. KapanLagi.com sempat membuat sebuah kuis - atau apa pun - di Twitter dengan tujuan meningkatkan kunjungan ke situsnya (traffic). Dengan kuis yang meminta follower-nya untuk me-ReTweet sebanyak-banyaknya, membuat followers dari follower tersebut merasa terganggu. Kenapa? Simple! Karena informasi tersebut tidak mereka butuhkan. Namun, reaksi cepat untuk menghentikan kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada KapanLagi.com untuk tidak kehilangan followers-nya lebih banyak lagi. Toh sampai sekarang KapanLagi.com masih memiliki lebih dari 64.000 followers.

    Contoh yang berhasil menggunakan strategi ini adalah @rumahdara. Film ber-genre Slasher, yang merupakan karya murni anak bangsa, menggunakan strategi yang sesuai dengan market-nya, yaitu mereka yang memiliki hobi nonton bioskop. Jenis produk ini memang tidak long-lasting. Nah, pemahamannya yang cukup terhadap produk ini digunakan dengan baik melalui Social Media, yang pada akhirnya menyumbang banyak penonton selama masa tayangnya di bioskop-bioskop Indonesia.

    CRM sudah tentu bersifat jangka panjang
    Now we are talking :)
    Sekedar untuk menyamakan bahasa; CRM yang saya maksud di sini adalah Customer Relationship Management.

    Menurut saya, brand yang berakting seolah-olah seorang manusia melalui aktivitas tweeting di Twitter, memiliki keinginan untuk mendapatkan hubungan yang lebih intim dengan konsumennya. Apakah menguntungkan bagi sebuah bisnis? Tentu saja. Hanya saja, kelemahannya adalah strategi ini membutuhkan waktu yang lebih lama daripada strategi yang sudah saya bahas di atas. Saya percaya hasil yang didapatkan melalui strategi ini akan lebih kaya, dibandingkan dengan strategi hard-selling.

    Strategi ini membutuhkan komitmen dan fokus. Perlu diingat bahwa jarang sekali tweet dan/atau posting di Social Media langsung membuahkan Sales.

    Ada dua hal yang sebaiknya sebuah perusahaan pikirkan sebelum memanusiakan brand-nya di Social Media:
    • Jangan mulai kalau tidak berani mengambil resiko. Banyak sekali brand yang 'ikut-ikutan' pada masa booming-nya Social Media di Indonesia. Kalau hanya untuk eksis saja, tanpa ada tindak lanjut, percayalah bahwa hal ini dapat berdampak negatif terhadap brand, bahkan perusahaan Anda. Bayangkan jika Anda tidak aktif di Facebook dan/atau Twitter, dan sudah banyak sekali konsumen yang mengutarakan keinginan atau keluhannya terhadap performa brand Anda, tetapi Anda tidak merespon. Itu hanya akan memberikan kesan bahwa Anda tidak peduli dengan saran dan kritik dari konsumen Anda. Artinya? Anda baru saja kehilangan kesempatan untuk mendekatkan diri dengan konsumen Anda, dan yang paling parah, Anda kehilangan kesempatan untuk menjadi lebih baik. Thus, treat your customer very very well.
    • Mainkan kreativitas Anda melalui Social Media. Indonesia ada di urutan ke-4 dunia untuk pengguna Facebook dan ke-6 dunia untuk Twitter. Jadi tidak perlu saya ingatkan lagi bahwa kedua situs jejaring sosial ini merupakan tempat berkumpulnya konsumen Anda. Jika hanya sekedar mem-post atau men-tweet saja, jelas masih kurang. Konsumen juga bisa bosan, jika tidak ada kegiatan-kegiatan yang bersifat interaktif. Caranya bagaimana? Paling mudah, adakan kuis-kuis yang menarik, seperti @soalBOWBOW, @sawityowit, dan banyak akun twitter menarik lainnya. Terkadang hadiah riil juga diperlukan untuk mengamplifikasi ketertarikan para konsumen dan kegiatan social-sharing. Apalagi kalau Anda bisa menciptakan kegiatan yang bersifat customer engagement, seperti @pocariID dengan kegiatan ionopolis yang berhasil mengadakan acara #ionorace. Jika dilakukan dengan benar dan rapi, niscaya berdampak positif bagi brand Anda ;)
    Sedikit tips apabila Anda ingin membuat aktivitas menarik di Social Media supaya konsumen Anda tidak bosan:
    1. Buat konsumen Anda berpartisipasi dengan mudah;
    2. Buat aktivitas tersebut mudah untuk dibagikan (social-sharing);
    3. Jaga ketertarikan dan aktivitas konsumen Anda melalui kuis-kuis atau kompetisi online dan/atau offline (customer engagement);
    4. Apabila konsumen Anda ingin berbuat sesuatu yang positif bagi Anda, dukung. Contoh: salah satu member KapanLagi.com pernah membuat lagi rap tentang KapanLagi.com. KapanLagi.com memberikan dukungan dengan cara mem-posting karya tersebut baik di forum, maupun di web page-nya.)
    Semua kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas - menurut saya - tidak mungkin dilakukan oleh bot, melainkan harus dengan sentuhan manusia.

    "Sapa, dengarkan, dan bergaullah dengan konsumen Anda."

    Apabila ada beberapa konsumen Anda yang meng-unfollow dan meng-unlike akun brand Anda, jangan cepat panik. Mereka belum tentu market yang potensial untuk Anda. Bahkan, di saat yang bersamaan dan mungkin Anda tidak sadari, bahwa Anda sedang melakukan riset pasar yang - tentunya - akan sangat berguna bagi Anda dan brand Anda.

    Niscaya komitmen and fokus Anda untuk selalu berusaha memenuhi kebutuhan konsumen Anda akan bermuara kepada angka sales yang memuaskan.

    Selamat mencoba..and thanks for reading :)

    Wednesday, August 25, 2010

    Iklan TV 'Yahoo! Koprol'

    video

    Inilah bukti dari beberapa tulisan-tulisan saya di Glugug! Metode offline masih diperlukan, bahkan untuk urusan online sekali pun. Sampai dengan saat ini - tanpa bisa dipungkiri - Televisi masih media paling seksi untuk meningkatkan awareness, bahkan call-to-action di Indonesia. Setidaknya, sebagian besar masyarakat Indonesia dipercaya dapat terjaring melalui penggunaan media televisi.

    Hanya dalam jangka waktu 1 (satu) hari setelah iklan tersebut ditayangkan - saya kutip dari Dailysocial.net - lebih dari 7.000 user sign-up ke Yahoo! Koprol. Angka yang cukup fantastis menurut saya.

    TAPI..

    What's next? Itu yang saya ingin tahu ;)

    Kita pantau sama-sama ya?

    Thanks for reading :)

    Saturday, August 21, 2010

    Kebangkitan Era E-Commerce Indonesia


    Dunia maya adalah dunia tanpa henti. Sangat dinamis dengan inovasi-inovasi model bisnis yang atraktif dan relevan. Tidak sedikit juga sih yang tumbang di tengah jalan, bahkan di awal publikasi. Rata-rata yang berhasil telah berhasil untuk memikirkan - setidaknya - dua hal, yaitu:
    1. Content yang menarik dan memang memenuhi kebutuhan dan keinginan pasar;
    2. Advertisers yang bisa diyakinkan bahwa model bisnis situs tersebut akan men-generate traffic, users, dan (bisa juga) transaksi
    Setelah itu, hukum dasar Marketing Mix dan Positioning silahkan dipergunakan untuk membedakan antara Anda dan kompetitor-kompetitor Anda. Jika bisnis Anda 'new to the world/people', kesempatan yang dimiliki untuk menjadi bahan WOM (Word Of Mouth) memiliki peluang yang sangat besar, tentu didukung dengan strategi promosi yang tepat.

    OK, cukup dengan paragraf-paragraf pembukanya. Jika Anda membayangkan diri Anda mundur beberapa tahun ke belakang, kita bisa sama-sama tahu situs-situs legendaris apa saja yang berperan dalam mengedukasi masyarakat dalam berperilaku online. Saya melihatnya dari 3 fase, yaitu:
    1. Era Informasi: CNN.com, detik.com, KapanLagi.com, dan lainnya;
    2. Era Komunikasi: E-mail, mIRC32, MSN/YM, KasKus.us, Friendster/MySpace, Facebook, Twitter, dan banyak lagi lainnya;
    3. Era Berbelanja: Amazon.com, eBay, Alibaba.com, 11st.co.kr, Rakuten, Plasa.com, Tokopedia.com, dan sangat amat banyak sekali.
    Kedua fase tersebut memang masing-masing saling bersinggungan, karena para businessmen tentu ingin terus berinovasi untuk merebut perhatian dan minat pasar dalam berkegiatan ekonomi. Akan tetapi, kesiapan pasar adalah kuncinya. Tidak bisa serta merta businessmen memaksakan kehendak konsumennya untuk membeli produk buatannya, dengan platform apa pun.

    Generasi Y, yang merupakan terusan dari Generasi X, adalah generasi yang sudah melek internet. Dengan perkembangan teknologi internet dan situs-situs dengan model bisnis yang terus berkembang, Generasi Y bisa dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
    • Enthusiast: Pencari dan pembagi informasi (travelling, kuliner, hobi, dan lain lain);
    • Deal Seeker: Pencari dan pembagi informasi potongan harga, kupon, cashback, dan tawaran promosi lainnya.
    Di Indonesia semua situs E-Commerce dan konsumennya sedang sama-sama belajar. E-Commerce belajar untuk mengerti perilaku konsumennya dalam berbelanja online dan si konsumen juga sedang belajar untuk mempercayai sistem online untuk kegiatan berbelanja mereka. Nah..sebetulnya apa sih perilaku konsumen yang sama persis, baik dalam berbelanja offline maupun online? BETUL! Jawabannya adalah DISKON, CASHBACK, VOUCHER, KUPON! Masa sih Anda tidak tergiur dengan tawaran-tawaran potongan harga untuk barang yang Anda sudah incar? Atau barang yang sebetulnya tidak terlalu Anda butuhkan tapi kok kayanya bisa mempercantik rumah dan meja kantor Anda?

    Model bisnis online yang dibilang-bilang akan jadi cukup ngetren ke depannya adalah sebuah situs yang berawal di Chicago, Amerika Serikat, dengan nama Groupon. Groupon bukan yang pertama dalam bisnis kupon secara onilne, tapi setidaknya situs ini lah yang perkembangannya sangat cepat. Cara kerja layanan yang ditawarkan oleh Groupon adalah:
    • Kita (konsumen) mengumpulkan peminat dengan jumlah tertentu terhadap satu restoran yang sama;
    • Lalu tim Groupon akan menegosiasikan dengan pihak restoran tersebut (merchants) demi minat kita;
    • Si merchant memberikan apresiasi berupa diskon dengan jumlah yang disepakati antara Groupon dan si merchant;
    • Kita sebagai peminat dan user lain yang sedang mengunjungi Groupon dapat mendaftarkan diri dan membeli kupon tersebut dengan durasi waktu tertentu.
    Kenapa harus mengumpulkan peminat terlebih dahulu?
    Groupon harus cukup yakin bahwa restoran yang diminati pasar sesungguhnya memiliki peluang yang besar untuk dikunjungi dan dikonsumsi. Ini menjadi bargaining power Groupon kepada sang merchant.
    Terus, kok hanya dalam durasi tertentu? Kenapa ga seminggu or selamanya saja sekalian?
    Dari pihak merchant, tentu mereka ingin mempertahankan image restoran mereka di level tertentu dan kalau terus-terusan dipotong harganya, ya bangkrut dong. Selain untuk menarik pengunjung pada saat grand launching restaurant yang baru, restoran yang mahal pun ingin supaya ada tambahan konsumen, yang bisa memaklumi harga mahalnya setelah mencoba kualitas dan rasa dari makanan dan/atau minuman yang disajikan oleh restoran tersebut.
    Kok saya berani bilang bahwa ini akan menjadi tren ke depannya? Ada tiga hal yang membuat saya cukup optimis untuk berpendapat demikian:
    1. Orang Indonesia adalah penganut asas collectivism. Sangat senang untuk berbagi cerita suka dan duka bersama dengan circle of friends-nya, dari kalangan mana pun;
    2. Orang Indonesia suka sekali dengan diskon dan teman-temannya (80% Deal Seeker, 20% Enthusiast. Hehehe..). Perlu saya jelaskan lebih lanjut? Hehehe..Kayanya tidak usah ya. Tapi kayanya ga cuma orang Indonesia aja deh..;
    3. Sudah ada tiga situs Indonesia yang mengadaptasi model bisnis Groupon, yaitu DisDus.com, Fanesia.com, dan Dealkeren.com. Informasi ini saya dapatkan dari Daily Social.com, sebuah situs media informasi Tech Start-Up lokal yang sedang saya gandrungi sekarang.
    See? Perkembangan internet sangat dinamis dan seperti halnya di dunia riil, akan banyak model-model bisnis E-Commerce lain yang akan muncul dengan kegiatan-kegiatan promosi mereka dan internet pun akan menjadi cluttered.

    Dan sadarilah bahwa model bisnis yang menganut paham crowd-sourcing cenderung untuk cepat berkembang dan mendapatkan perhatian target pasar yang diinginkan.

    Jadi? Siap kah Anda berbelanja online? Pada akhirnya toh Anda akan mencoba ;) Percaya atau tidak percaya, teman-teman Anda mungkin saja sudah menjadikan belanja online sebagai bagian dari lifestyle mereka.

    Thanks for reading! See you on the next discussion ;)

    Saturday, June 12, 2010

    1 Thing You NOT Need to Share 'Social Media-ly'




    Some things are better left untouched by Social Media :D

    I find this illustration hilarious :D

    Saturday, June 5, 2010

    'Main' Foursquare Tidak Pada Tempatnya


    Setelah dilanda demam Twitter, sekarang Indonesia menemukan mainan baru. Yes, it's Foursquare.

    Kenapa bukan Koprol?
    Koprol sudah dibahas di post sebelumnya.

    Trus Gowalla engga?
    Ternyata Gowalla belum sepopuler Foursquare, setidaknya di Indonesia, walau Gowalla memiliki sedikit kelebihan daripada Foursquare.

    But anyway, kita akan membatasi diskusi ini sebatas Foursquare saja.

    Sekedar mengingatkan, Foursquare adalah sebuah 'perempatan' antara menemukan teman, petunjuk tempat-tempat kunjungan (favorit atau tidak itu sangat relatif), dan sebuah permainan yang memberikan penghargaan kepada member-nya setiap berhasil memberikan informasi berharga bagi member-member lainnya (diterjemahkan dari Foursquare).

    Jadi, Foursquare TIDAK menyediakan informasi tentang tempat-tempat, karena tidak mungkin untuk mengidentifikasi setiap lokasi di dunia. Mungkin baru yang sekitaran di Amerika Serikat saja. Tapi, justru ini adalah kekuatan Foursquare, karena member dengan bebas dapat menambahkan identitas lokasi-lokasi yang mereka kunjungi, yang - siapa tahu - suatu saat berguna bagi member yang lain. Setiap kita menambahkan informasi tempat baru, maka Foursquare akan memberikan poin yang apabila sudah terkumpul pada jumlah-jumlah tertentu, kita akan dihadiahi sebuah badge sebagai penghargaan atas achievement kita. Bahkan, dengan check-in saja kita diberi poin. Kalau kata Ibu Dara: ENAK KHAAN??!! Nah, keuntungan buat Foursquare adalah peningkatan database lokasi yang signifikan untuk menjadikan Foursquare lebih lengkap.

    Eits! Ntar dulu. Yang diharapkan kita sebagai member Foursquare adalah kita juga memberikan tips-tips tentang lokasi-lokasi yang kita rekomendasikan (atau tidak merekomendasikan). Ada fitur 'To-Do", yaitu share kita terhadap Foursquare akan tempat yang ingin kita tuju. Lalu ada juga "Add Tips", yaitu Tips yang kita berikan kepada teman-teman kita sesama member Foursquare, apabila mereka ingin mengunjungi tempat yang kita rekomendasikan.

    Akan tetapi, sayang seribu sayang, tidak semua orang menggunakan fitur-fitur di Foursquare secara pantas. Saya menemukan tiga fenomena yang paling sering terjadi pada saat member-member beraktivitas lewat Foursquare. Ini yang sebetulnya menurut saya kategorikan sebagai "Main Foursquare Tidak Pada Tempatnya".

    ----------
    Remote Check-Ins
    Apa sih itu? Remote Check-Ins merupakan kegiatan check-in di Foursquare yang dilakukan oleh member, tanpa - secara fisik - member berada di lokasi tersebut.
    Ada yang salah? Ada! Karena member tersebut tidak menggunakan fasilitas Foursquare sebagaimana mestinya
    . Namanya aja check-in. Gimana sih kalau di Hotel atau di Bandar Udara? Kalau check-in, secara fisik orangnya harus ada di situ khan? Sedikit mengutip dari Wikipedia.org, definisi Check-In adalah:

    The process of announcing your arrival at a hotel, airport or sea port.


    Ada unsur 'konfirmasi' di situ. Banyaknya check-in - di tingkat tertentu - menentukan jumlah
    badge yang akan didapat oleh member.

    Menambah Lokasi Seenaknya
    Kalau masalah ini, masih dalam grey area. Kenapa gitu? Karena pengenalan dan kelengkapan informasi akan sebuah tempat oleh tiap-tiap member Foursquare berbeda. Tapi itu ga akan saya bahas deh.

    Saya share pengalaman sedikit:
    "Kemarin saya di La Piazza, Kelapa Gading. Saya ingin check-in di situ. Pada saat saya scrolling untuk memilih lokasi di mana saya berada, saya menemukan 5 lokasi dengan nama yang sama, namun dengan tingkat kelengkapan yang berbeda. Ada yang nulis alamat, ada yang..yaa..yang penting ada tulisan 'La Piazza'-nya. Terus terang, saya sebagai user merasa sangat terganggu, karena saya sudah pernah check-in di lokasi yang sama dengan informasi yang memang dulu hanya ada satu nama La Piazza saja dan saya tidak mau check-in di 'La Piazza' lainnya karena menurut saya tidak halah dalam etika ber-sosial media (call me old-fashioned or whatever, I do not really care)."

    Saya yakin ada beberapa orang yang berpandangan sama seperti saya, dalam hal menggunakan fitur-fitur social media. Untuk memberikan informasi lokasi baru di Foursquare, Foursquare memberikan poin yang cukup tinggi, yaitu '+5'. Nah..Apakah ada hubungannya dengan mendapatkan badges? Kita bahas di akhir saja.

    Mengabaikan fitur 'Add Tips'
    Fitur 'To-Do' tidak saya bahas karena keinginan orang berbeda-beda dan kontribusinya terhadap Foursquare pun kurang signifikan, walau tetap fun untuk dipakai.
    Beberapa lokasi - terutama di Indonesia - ada yang cukup 'tersembunyi', yang tidak mudah ditemukan pada saat sedang berkendaraan atau memang lokasinya cukup terpencil atau susah dijangkau. Karena itulah gunanya fitur 'Add Tips' di Foursquare. Fitur tersebut tidak terbatas hanya kepada menu apa yang direkomendasikan oleh member lain. Menurut saya, informasi navigasi terhadap lokasi yang dituju merupakan isu yang jauh lebih penting.

    Seringkali kita lihat akun Foursquare teman kita yang isinya hanya check-in saja. Again, bukankah social media merupakan tempat untuk berbagi informasi? (And) again, apakah niatnya memang semata-mata hanya untuk mendapatkan badges? Masalah sempat atau tidak sempat, itu personal. Tidak ada yang bisa menilai. Saya hanya melihat kepada 'niat'.
    ----------

    Ada ga sih yang sama dari ketiga poin yang saya coba jabarkan di atas? Yes! It's about Foursquare Badges. Tampaknya fitur reward ini pasti fun secara individual, tapi persepsi dari member yang lain bisa berbeda. Badges yang tadinya diperuntukkan sebagai sebuah perhargaan atas informasi yang diberikan, malah menjadi ajang koleksi tanpa memperhatikan kelengkapan informasi dan kegunaannya bagi sesama. Etika dalam menggunakan fitur social media bisa dibilang: telah dilanggar.

    Apa hikmah yang dapat diambil dari fenomena ini?
    Etika adalah sesuatu keyakinan yang belum tentu dipersepsikan sama oleh dua individu atau lebih. Akan tetapi, etika dipercaya sebagai sebuah value yang dipegang oleh kebanyakan orang dan secara tidak langsung, menuntut tiap-tiap individu untuk mematuhi dan menghormati etika tersebut. Contoh konkrit pelanggaran etika, salah satunya, adalah dikucilkan. Tentu tidak ada orang yang ingin dikucilkan khan?

    Beretika di social media hampir tidak ada bedanya dengan kita menjunjung etika di kehidupan yang sebenarnya. Konsekuensinya pun mirip. Percayalah bahwa menjadi individu yang beretika dapat memberikan kotribusi positif yang besar bagi perkembangan batiniah diri sendiri dan sustainability dalam membangun relasi terhadap sesama.

    Tulisan ini hanya buah pikiran saja dan saya menyambut bentuk-bentuk pembahasan dan/atau diskusi tentang topik ini. Teman-teman bebas memandang dan memperlakukan Foursquare sebagai apa pun yang kalian ingin pikirkan dan lakukan. Tidak akan masuk penjara kok ;)

    Thanks for your time, please feel free to drop any comment, and stay tune for the next exciting topic ;)