Wednesday, August 25, 2010
Iklan TV 'Yahoo! Koprol'
Inilah bukti dari beberapa tulisan-tulisan saya di Glugug! Metode offline masih diperlukan, bahkan untuk urusan online sekali pun. Sampai dengan saat ini - tanpa bisa dipungkiri - Televisi masih media paling seksi untuk meningkatkan awareness, bahkan call-to-action di Indonesia. Setidaknya, sebagian besar masyarakat Indonesia dipercaya dapat terjaring melalui penggunaan media televisi.
Hanya dalam jangka waktu 1 (satu) hari setelah iklan tersebut ditayangkan - saya kutip dari Dailysocial.net - lebih dari 7.000 user sign-up ke Yahoo! Koprol. Angka yang cukup fantastis menurut saya.
TAPI..
What's next? Itu yang saya ingin tahu ;)
Kita pantau sama-sama ya?
Thanks for reading :)
Saturday, August 21, 2010
Kebangkitan Era E-Commerce Indonesia

Dunia maya adalah dunia tanpa henti. Sangat dinamis dengan inovasi-inovasi model bisnis yang atraktif dan relevan. Tidak sedikit juga sih yang tumbang di tengah jalan, bahkan di awal publikasi. Rata-rata yang berhasil telah berhasil untuk memikirkan - setidaknya - dua hal, yaitu:
- Content yang menarik dan memang memenuhi kebutuhan dan keinginan pasar;
- Advertisers yang bisa diyakinkan bahwa model bisnis situs tersebut akan men-generate traffic, users, dan (bisa juga) transaksi
OK, cukup dengan paragraf-paragraf pembukanya. Jika Anda membayangkan diri Anda mundur beberapa tahun ke belakang, kita bisa sama-sama tahu situs-situs legendaris apa saja yang berperan dalam mengedukasi masyarakat dalam berperilaku online. Saya melihatnya dari 3 fase, yaitu:
- Era Informasi: CNN.com, detik.com, KapanLagi.com, dan lainnya;
- Era Komunikasi: E-mail, mIRC32, MSN/YM, KasKus.us, Friendster/MySpace, Facebook, Twitter, dan banyak lagi lainnya;
- Era Berbelanja: Amazon.com, eBay, Alibaba.com, 11st.co.kr, Rakuten, Plasa.com, Tokopedia.com, dan sangat amat banyak sekali.
Generasi Y, yang merupakan terusan dari Generasi X, adalah generasi yang sudah melek internet. Dengan perkembangan teknologi internet dan situs-situs dengan model bisnis yang terus berkembang, Generasi Y bisa dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
- Enthusiast: Pencari dan pembagi informasi (travelling, kuliner, hobi, dan lain lain);
- Deal Seeker: Pencari dan pembagi informasi potongan harga, kupon, cashback, dan tawaran promosi lainnya.
Model bisnis online yang dibilang-bilang akan jadi cukup ngetren ke depannya adalah sebuah situs yang berawal di Chicago, Amerika Serikat, dengan nama Groupon. Groupon bukan yang pertama dalam bisnis kupon secara onilne, tapi setidaknya situs ini lah yang perkembangannya sangat cepat. Cara kerja layanan yang ditawarkan oleh Groupon adalah:
- Kita (konsumen) mengumpulkan peminat dengan jumlah tertentu terhadap satu restoran yang sama;
- Lalu tim Groupon akan menegosiasikan dengan pihak restoran tersebut (merchants) demi minat kita;
- Si merchant memberikan apresiasi berupa diskon dengan jumlah yang disepakati antara Groupon dan si merchant;
- Kita sebagai peminat dan user lain yang sedang mengunjungi Groupon dapat mendaftarkan diri dan membeli kupon tersebut dengan durasi waktu tertentu.
Groupon harus cukup yakin bahwa restoran yang diminati pasar sesungguhnya memiliki peluang yang besar untuk dikunjungi dan dikonsumsi. Ini menjadi bargaining power Groupon kepada sang merchant.Terus, kok hanya dalam durasi tertentu? Kenapa ga seminggu or selamanya saja sekalian?
Dari pihak merchant, tentu mereka ingin mempertahankan image restoran mereka di level tertentu dan kalau terus-terusan dipotong harganya, ya bangkrut dong. Selain untuk menarik pengunjung pada saat grand launching restaurant yang baru, restoran yang mahal pun ingin supaya ada tambahan konsumen, yang bisa memaklumi harga mahalnya setelah mencoba kualitas dan rasa dari makanan dan/atau minuman yang disajikan oleh restoran tersebut.Kok saya berani bilang bahwa ini akan menjadi tren ke depannya? Ada tiga hal yang membuat saya cukup optimis untuk berpendapat demikian:
- Orang Indonesia adalah penganut asas collectivism. Sangat senang untuk berbagi cerita suka dan duka bersama dengan circle of friends-nya, dari kalangan mana pun;
- Orang Indonesia suka sekali dengan diskon dan teman-temannya (80% Deal Seeker, 20% Enthusiast. Hehehe..). Perlu saya jelaskan lebih lanjut? Hehehe..Kayanya tidak usah ya. Tapi kayanya ga cuma orang Indonesia aja deh..;
- Sudah ada tiga situs Indonesia yang mengadaptasi model bisnis Groupon, yaitu DisDus.com, Fanesia.com, dan Dealkeren.com. Informasi ini saya dapatkan dari Daily Social.com, sebuah situs media informasi Tech Start-Up lokal yang sedang saya gandrungi sekarang.
Dan sadarilah bahwa model bisnis yang menganut paham crowd-sourcing cenderung untuk cepat berkembang dan mendapatkan perhatian target pasar yang diinginkan.
Jadi? Siap kah Anda berbelanja online? Pada akhirnya toh Anda akan mencoba ;) Percaya atau tidak percaya, teman-teman Anda mungkin saja sudah menjadikan belanja online sebagai bagian dari lifestyle mereka.
Thanks for reading! See you on the next discussion ;)
Saturday, June 12, 2010
Saturday, June 5, 2010
'Main' Foursquare Tidak Pada Tempatnya

Setelah dilanda demam Twitter, sekarang Indonesia menemukan mainan baru. Yes, it's Foursquare.
Kenapa bukan Koprol?
Koprol sudah dibahas di post sebelumnya.
Trus Gowalla engga?
Ternyata Gowalla belum sepopuler Foursquare, setidaknya di Indonesia, walau Gowalla memiliki sedikit kelebihan daripada Foursquare.
But anyway, kita akan membatasi diskusi ini sebatas Foursquare saja.
Sekedar mengingatkan, Foursquare adalah sebuah 'perempatan' antara menemukan teman, petunjuk tempat-tempat kunjungan (favorit atau tidak itu sangat relatif), dan sebuah permainan yang memberikan penghargaan kepada member-nya setiap berhasil memberikan informasi berharga bagi member-member lainnya (diterjemahkan dari Foursquare).
Jadi, Foursquare TIDAK menyediakan informasi tentang tempat-tempat, karena tidak mungkin untuk mengidentifikasi setiap lokasi di dunia. Mungkin baru yang sekitaran di Amerika Serikat saja. Tapi, justru ini adalah kekuatan Foursquare, karena member dengan bebas dapat menambahkan identitas lokasi-lokasi yang mereka kunjungi, yang - siapa tahu - suatu saat berguna bagi member yang lain. Setiap kita menambahkan informasi tempat baru, maka Foursquare akan memberikan poin yang apabila sudah terkumpul pada jumlah-jumlah tertentu, kita akan dihadiahi sebuah badge sebagai penghargaan atas achievement kita. Bahkan, dengan check-in saja kita diberi poin. Kalau kata Ibu Dara: ENAK KHAAN??!! Nah, keuntungan buat Foursquare adalah peningkatan database lokasi yang signifikan untuk menjadikan Foursquare lebih lengkap.
Eits! Ntar dulu. Yang diharapkan kita sebagai member Foursquare adalah kita juga memberikan tips-tips tentang lokasi-lokasi yang kita rekomendasikan (atau tidak merekomendasikan). Ada fitur 'To-Do", yaitu share kita terhadap Foursquare akan tempat yang ingin kita tuju. Lalu ada juga "Add Tips", yaitu Tips yang kita berikan kepada teman-teman kita sesama member Foursquare, apabila mereka ingin mengunjungi tempat yang kita rekomendasikan.
Akan tetapi, sayang seribu sayang, tidak semua orang menggunakan fitur-fitur di Foursquare secara pantas. Saya menemukan tiga fenomena yang paling sering terjadi pada saat member-member beraktivitas lewat Foursquare. Ini yang sebetulnya menurut saya kategorikan sebagai "Main Foursquare Tidak Pada Tempatnya".
----------
Remote Check-Ins
Apa sih itu? Remote Check-Ins merupakan kegiatan check-in di Foursquare yang dilakukan oleh member, tanpa - secara fisik - member berada di lokasi tersebut.
Ada yang salah? Ada! Karena member tersebut tidak menggunakan fasilitas Foursquare sebagaimana mestinya. Namanya aja check-in. Gimana sih kalau di Hotel atau di Bandar Udara? Kalau check-in, secara fisik orangnya harus ada di situ khan? Sedikit mengutip dari Wikipedia.org, definisi Check-In adalah:
The process of announcing your arrival at a hotel, airport or sea port.
Ada unsur 'konfirmasi' di situ. Banyaknya check-in - di tingkat tertentu - menentukan jumlah badge yang akan didapat oleh member.
Menambah Lokasi Seenaknya
Kalau masalah ini, masih dalam grey area. Kenapa gitu? Karena pengenalan dan kelengkapan informasi akan sebuah tempat oleh tiap-tiap member Foursquare berbeda. Tapi itu ga akan saya bahas deh.
Saya share pengalaman sedikit:
"Kemarin saya di La Piazza, Kelapa Gading. Saya ingin check-in di situ. Pada saat saya scrolling untuk memilih lokasi di mana saya berada, saya menemukan 5 lokasi dengan nama yang sama, namun dengan tingkat kelengkapan yang berbeda. Ada yang nulis alamat, ada yang..yaa..yang penting ada tulisan 'La Piazza'-nya. Terus terang, saya sebagai user merasa sangat terganggu, karena saya sudah pernah check-in di lokasi yang sama dengan informasi yang memang dulu hanya ada satu nama La Piazza saja dan saya tidak mau check-in di 'La Piazza' lainnya karena menurut saya tidak halah dalam etika ber-sosial media (call me old-fashioned or whatever, I do not really care)."
Saya yakin ada beberapa orang yang berpandangan sama seperti saya, dalam hal menggunakan fitur-fitur social media. Untuk memberikan informasi lokasi baru di Foursquare, Foursquare memberikan poin yang cukup tinggi, yaitu '+5'. Nah..Apakah ada hubungannya dengan mendapatkan badges? Kita bahas di akhir saja.
Mengabaikan fitur 'Add Tips'
Fitur 'To-Do' tidak saya bahas karena keinginan orang berbeda-beda dan kontribusinya terhadap Foursquare pun kurang signifikan, walau tetap fun untuk dipakai.
Beberapa lokasi - terutama di Indonesia - ada yang cukup 'tersembunyi', yang tidak mudah ditemukan pada saat sedang berkendaraan atau memang lokasinya cukup terpencil atau susah dijangkau. Karena itulah gunanya fitur 'Add Tips' di Foursquare. Fitur tersebut tidak terbatas hanya kepada menu apa yang direkomendasikan oleh member lain. Menurut saya, informasi navigasi terhadap lokasi yang dituju merupakan isu yang jauh lebih penting.
Seringkali kita lihat akun Foursquare teman kita yang isinya hanya check-in saja. Again, bukankah social media merupakan tempat untuk berbagi informasi? (And) again, apakah niatnya memang semata-mata hanya untuk mendapatkan badges? Masalah sempat atau tidak sempat, itu personal. Tidak ada yang bisa menilai. Saya hanya melihat kepada 'niat'.
----------
Ada ga sih yang sama dari ketiga poin yang saya coba jabarkan di atas? Yes! It's about Foursquare Badges. Tampaknya fitur reward ini pasti fun secara individual, tapi persepsi dari member yang lain bisa berbeda. Badges yang tadinya diperuntukkan sebagai sebuah perhargaan atas informasi yang diberikan, malah menjadi ajang koleksi tanpa memperhatikan kelengkapan informasi dan kegunaannya bagi sesama. Etika dalam menggunakan fitur social media bisa dibilang: telah dilanggar.
Apa hikmah yang dapat diambil dari fenomena ini?
Etika adalah sesuatu keyakinan yang belum tentu dipersepsikan sama oleh dua individu atau lebih. Akan tetapi, etika dipercaya sebagai sebuah value yang dipegang oleh kebanyakan orang dan secara tidak langsung, menuntut tiap-tiap individu untuk mematuhi dan menghormati etika tersebut. Contoh konkrit pelanggaran etika, salah satunya, adalah dikucilkan. Tentu tidak ada orang yang ingin dikucilkan khan?
Beretika di social media hampir tidak ada bedanya dengan kita menjunjung etika di kehidupan yang sebenarnya. Konsekuensinya pun mirip. Percayalah bahwa menjadi individu yang beretika dapat memberikan kotribusi positif yang besar bagi perkembangan batiniah diri sendiri dan sustainability dalam membangun relasi terhadap sesama.
Tulisan ini hanya buah pikiran saja dan saya menyambut bentuk-bentuk pembahasan dan/atau diskusi tentang topik ini. Teman-teman bebas memandang dan memperlakukan Foursquare sebagai apa pun yang kalian ingin pikirkan dan lakukan. Tidak akan masuk penjara kok ;)
Thanks for your time, please feel free to drop any comment, and stay tune for the next exciting topic ;)
Sunday, April 11, 2010
Facebook VS Koprol. Adilkah?

Ternyata mau tidak mau, Facebook tergelitik juga oleh kehadiran dan kepiawaian Foursquare dan Gowalla. Hal ini dibuktikan dengan akan diadakannya Facebook developer conference (f8) ada 21 April 2010. Topik pembahasannya adalah bahwa Facebook akan meluncurkan fitur yang mirip dengan kedua situs Location-based Social Media ini. Hanya saja, kita memiliki pilihan untuk hanya bisa membagikan informasi kita secara terbatas, yaitu kepada circle of friends kita atau orang-orang yang kita percayai untuk dapat saling menghargai dan tidak pelit informasi.
Kalau mau kita persempit, Foursquare - yang diasumsikan akan menjadi the next Twitter di tahun 2010 ini - merupakan situs social media yang saat ini sedang naik daun. Menurut saya pribadi, Foursquare memang potensial, tapi masih membutuhkan banyak perkembangan fitur yang menekankan pada sharing activity, karena it is what social media is all about. Per 11 Maret 2010, pengguna Foursquare sudah menembus angka 500.000 member. Sedangkan Gowalla sekitar 100.00o-an lebih. Saya mendapatkan data tersebut dari sini. Kita tidak usah membahas membernya Facebook lah ya :D Populasi Facebook di dunia saja sudah mau menyamai populasi penduduk Amerika Serikat.
Nah..sekarang kita go local. Mungkin teman-teman masih banyak yang belum familiar dengan situs social media lokal yang satu ini. Namanya adalah Koprol. Fitur-fitur yang ditawarkan sudah cukup OK menurut saya, walau tentu saja pengembangan produk tetap saya nanti-nantikan. Koprol, secara konsep, mirip seperti gabungan antara Twitter dan Foursquare (mungkin Gowalla juga, karena saya tidak 'mainan' Gowalla). Tapi yang Koprol tawarkan memang cenderung lebih mirip ke Foursquare. Jumlah member di Koprol sekarang sudah mencapai +30.000 member, semenjak Juli 2008. Good job, Koprol! ;)
Dengan informasi bahwa Facebook akan meluncurkan fitur serupa, cukup banyak rekan-rekan blogger atau media online yang membahas tentang terancamnya Koprol, seperti yang saya baca di Citywebindo.com. Saya kurang ingat alamat situs rekan-rekan blogger lainnya yang membahas topik serupa.
Kalau boleh jujur, menurut saya sedikit kurang adil jika kita membandingkan antara situs multinasional dengan situs lokal. Jelas multinasional yang memiliki potensi lebih besar untuk mendapatkan pengunjung dan/atau member sebanyak-banyaknya. Tapi kasus ini sangat menarik, karena justru dengan posisi Koprol sebagai situs social media lokal, banyak sekali potensi yang dapat dikembangkan dari hanya sekedar situs pertemanan dan information-sharing ini. Locally, of course..
So? What can Koprol do?
CONSUMER ENGAGEMENT adalah salah satu kata kunci dari saya.
Online (enhancement)
Kita juga bisa lihat bahwa makin banyak situs-situs lokal yang sangat berpotensial untuk berkontribusi kepada negaranya sendiri, seperti juale.com, plasa.com, deathrockstar.info, kaskus.us, dan masih banyak situs-situs lokal berjaya lainnya. Dengan membangun relasi kemitraan dengan situs-situs serupa, saya yakin member pun akan merasa dihargai keinginannya dalam mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dari hanya satu tempat saja. Masing-masing situs memiliki kepentingan, tentunya. Tinggal menemukan jalan tengah dan voila, you are enhancing the market, online-ly.
Offline (participation)
Apakah cukup di situ? Wait a minute. Siapa bilang orang-orang yang bertemu secara online tidak juga ingin bertemu di dunia nyata? Banyak sekali orang dipertemukan secara online sekarang ini. Tentu saja kita bicara tentang pertemuan yang baik-baik dan maksud yang baik-baik ya. Hehehe.. Sekedar kenalan, memperluas networking, transaksi penjual-pembeli, dan niat-niat lainnya. Nah! Wadah offline semacam ini juga diperlukan sebagai kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) Koprol. Misalnya: Koprol 3 on 3 Basketball Competition, dimana ada perlakuan khusus bagi member yang bisa membuktikan Koprol membership mereka. Exciting, isn't it?!
Sebagai penutup dari saya,"Jangan pernah membatasi, apalagi meremehkan kreativitas dan inovasi dari masyarakat kita sendiri dan jangan merasa rendah diri. Dengan memperluas jaringan pertemanan dan wawasan, niscaya kesempatan yang ada pun tidak akan tersia-siakan."
Friday, April 9, 2010
Agama Baru: Social Media!

Agama, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan atau Dewa, dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.
Apa agama kalian? Kristen? Katolik? Islam? Hindu? Buddha? Kong Hu Cu?
---------------------------------------------------------------------------
Sebelum saya lanjutkan, santai saja ya bacanya, friends? :D It's nothing serious, tapi sebuah kenyataan yang menggelitik :)
---------------------------------------------------------------------------
Apakah teman-teman tahan untuk tidak cek Facebook, 'curhat' di Twitter/Koprol, dan/atau mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan badges di Foursquare 1 kali dalam sehari saja? Kalau memang tahan, selamat! Agama Anda cuma SATU!
Fenomena situs jejaring sosial di negara kita..wait..seluruh dunia, memang sangat luar biasa. Orang-orang mulai rela untuk tidak terlalu memusingkan bagaimana dan kapan mereka harus merencanakan perkumpulan 'rumpi' untuk bisa curhat atau hanya sekedar meng-update gosip terbaru di kalangan teman-teman terdekat. Akan tetapi, semakin kita belajar menggunakan dan membuka siapa diri kita sebenarnya di FB, Twitter, atau situs jejaring sosial lainnya, bisa saja mengubah perilaku kita.
Kepercayaan kita terhadap sesama anggota situs jejaring sosial membuat kita makin tergantung dalam berbagi (feel good) dan dibagikan (well-informed) informasi. Secara tidak langsung, kita seolah-olah 'menyembah' FB, Twitter, dan situs jejaring sosial sejenisnya. OK..OK..'menyembah' mungkin sebuah kata yang terlalu kontroversial, but think again, my friends. Aren't you?
Saya pribadi tidak melihat ada yang salah dengan menggantungkan kebutuhan informasi kita terhadap situs jejaring. Malahan, saya mendukung. Kita memiliki kesempatan untuk memperluas pengetahuan dan pergaulan kita, sejauh tidak menyalahi kebenaran dalam etika berkenalan dan saling menghormati.
Sedikit mirip dengan agama, di mana agama bisa juga menjadi zen time untuk kita, sebagai sampingan dalam usaha kita mendekatkan diri dengan Sang Maha Pencipta. Secara Anda tidak sadar, mungkin 'curcol' Anda atau kata-kata motivasi yang Anda bagikan dapat berpengaruh bagi seseorang di ujung dunia lain yang kebetulan sedang mencari jawaban dari pergumulannya. Betul khan? Mulai mendekati konsep agama dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang terlepas dari aspek 'Tuhan'-nya? Secara tidak kita sadari, kita pun percaya dan yakin akan informasi yang diberikan di situs jejaring sosial.
Lalu bagaimana kalau kita dibohongi? Situs jejaring sosial juga membuka peluang bagi pengguna-penggunanya untuk saling memonitor. Dapat dilihat di posting saya mengenai 'It's Me 2.0', bahwa pada saat ada oknum yang secara sengaja memberikan informasi yang bertentangan dengan norma-norma dan nilai-nilai kebenaran, maka secara cyber orang tersebut bisa saja diadili oleh teman-temannya atau pengikut-pengikutnya. Dari situ kita tahu bahwa orang tersebut tidak layak untuk dipercaya dalam hal berbagi informasi.
See, guys? Ada sistem reward dan ada juga punishment-nya. Situs jejaring sosial menjadi sesuatu yang kita kunjungi setiap hari untuk - tidak hanya berkomunikasi - menenangkan diri (baca: menghibur diri), menebar kasih dengan menyapa teman-teman kita lewat memberikan comment di status-status mereka, dan memuji mereka atas informasi berguna dan menginspirasi, yang mereka berikan kepada kita. Atau..teman-teman punya konsep berbeda soal agama? Atau social media? Bagikanlah dengan teman-teman Anda di sini.
Heaven or Hell? You choose ;)
Some Things Don't Change (Technologically)

Hari ini saya berbincang-bincang dengan teman saya Adityo, Andy, dan Ary. Temanya diawali dengan membahas soal heboh Spamming di BBM (BlackBerry Messenger) yang membuat rekan-rekan saya berteriak-teriak via Twitter. Saya turut berduka cita bagi yang menggunakan BB. Untung saya tidak :P Lalu kami mulai ngelantur ke buku dan iPad.
Di tengah perkembangan situs-situs yang mempermudah kegiatan saling berbagi di antara netizen ditambah teknologi yang tidak henti-hentinya bertambah canggih, kami melihat banyak sekali hal-hal yang makin mempermudah hidup manusia seperti:
- BlackBerry (berkomunikasi menjadi lebih mudah dan tanpa batas);
- Kindle (membaca tanpa membawa dan membolak-balikkan halaman);
- Android (era kejayaan Application Launcher).
Sampai pada akhirnya kami membahas soal 'Buku VS. iPad/Kindle/Slate/pokoknya teknologi Tablet PC'. Tablet PC memberikan banyak sekali kemudahan dalam berkegiatan online. Kalau dalam hal membaca e-Book, hebatnya Tablet PC adalah:
- Bisa menyimpan ber-Giga e-Book, tinggal dalam hitungan klik sudah dapat berganti buku, sesuai dengan minat baca;
- Ringkas: tidak harus membawa buku terlalu banyak;
- Terlihat lebih keren, daripada hanya membaca buku kuno;
- Pembelian e-Book dapat dilakukan dengan sangat mudah dan di mana saja.
Akan tetapi, teman saya Andy mengingatkan value yang bisa didapatkan lebih dari sebuah buku usang daripada Tablet PC yang super duper ultra mega canggih.
- Tablet PC kalau dicolong bisa nangis. Buku? Siapa yang mau nyolong coba?!
- Kalau kita lupa suatu teori atau bacaan yang sedang penting untuk tulisan, teori, dan riset kita, hanya dengan melirik ke deretan koleksi buku yang kita punya, bisa ingat lagi lho;
- Belum tentu melihat layar PC seharian bikin sehat mata. Buku lebih friendly;
- Kalau buku jatuh, ya diambil. Kalau Tablet PC jatuh, yang punya juga ikut jatuh (alias pingsan).
Tapi..
Kok saya merasa value yang dipaparkan teman saya Andy ini lebih 'ngena' di saya ketimbang baca e-Book di Tablet PC ya? Call me old-fashioned, tapi dalam hal ini kami sepakat bahwa Some Things Don't Change. Barang lama terkadang lebih baik daripada barang baru. 'Megang'-nya enak, biar dibilang jadul. Jadi menurut kami, buku adalah hasil inovasi 'jaman kuda gigit besi' yang tidak akan pernah mati. Bisa jadi menurun peminatnya, tapi kami tidak yakin buku akan hilang begitu saja dari muka bumi.
Bagaimana dengan teman-teman?
